PEMBENTUKAN
KARAKTER DAN SUBJECTIVE WELL BEING
DITINJAU DARI PENANAMAN NILAI-NILAI ISLAMI DALAM PENDIDIKAN ANAK
Dinie
Ratri Desiningrum
Fakultas Psikologi
UNDIP
ABSTRAK
Perilaku
menyimpang yang ada, seperti pada remaja yang gemar mencontek, kebiasaan bullying
di sekolah, terlibat penggunaan narkoba dan seksual pranikah, tawuran,
termasuk perilaku orang dewasa yang juga senang dengan konflik dan kekerasan,
serta perilaku korupsi yang merajalela, menunjukkan bahwa pengetahuan agama dan
moral yang didapatkan di bangku sekolah dan di rumah, tidak berdampak terhadap
perubahan perilaku manusia Indonesia. Untuk menciptakan manusia yang cinta
damai, jujur, bertanggung jawab menjaga lingkungan dan kualitas akhlak lainnya,
adalah dengan menciptakan manusia-manusia berkarakter, yang batinnya hidup,
yaitu mampu memilih mana yang baik dan benar, mampu mengontrol
dorongan-dorongan nafsu ketamakan, berpikir kritis, kreatif, beretos kerja
tinggi, selalu berinisiatif untuk melakukan kebaikan, dan berusaha untuk
semakin lebih baik setiap harinya. Bekal yang disiapkan orangtua dan pendidik
berupa pembentukan karakter yang mulia tidak hanya sebatas tugas anak sebagai
pelaku dalam masyarakat, tetapi sebagai manusia yang juga memiliki hak untuk
bahagia dan sejahtera, yang lebih dikenal dengan kesejahteraan subjektif.
Sementara beberapa ayat Allah dan Hadist menyatakan bahwa pendidikan adalah
bagian integral dan tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karya ilmiah ini
bertujuan untuk menerapkan metode pendidikan anak secara islami dalam membentuk
karakter anak dengan tujuan akhir mempersiapkan kesejahteraan subjektif pada
anak.
Metode yang digunakan adalah
analisis telaah teoritik-deskriptif, dengan mengaitkan lima poin pendidikan
islami dengan sembilan pilar karakter, dan bermuara pada pencapaian tiga aspek
kesejahteraan subjektif pada anak. Adapun karya ilmiah ini masih merupakan
studi pendahuluan sebagai langkah awal dalam penelitian lanjutan yang akan
dilakukan oleh penulis mengenai ketiga variabel.
Hasil yang diperoleh dari karya ilmiah
ini adalah adanya keterkaitan antara poin-poin pendidikan dalam islam, dengan
sembilan pilar pada pembentukan karakter dan keseluruhannya dapat membentuk
kesejahteraan subjektif pada anak. Ditemukan lebih lanjut bahwa poin kesuksesan
sejati berkaitan erat dengan pilar cinta Tuhan dan alam, lalu mendasari
pilar-pilar karakter lainnya; memahami anak sangat berkaitan dengan usia yang
tepat dalam penanaman ke-sembilan pilar karakter pada anak; metode pendidikan
islam memberikan solusi dalam pembentukan karakter secara menyeluruh dan
komprehensif; sementara isi pendidikan islam mengingatkan kita bahwa dalam
membentuk karakter anak tidak boleh lepas dari tujuan kesuksesan sejati, yaitu
meliputi tujuh bidang tarbiyah islam. Muara akhir dari pendidikan yang ditawarkan
islam dalam hal pendidikan karakter adalah terbentuknya karakter sesuai harapan
pendidikan islam, dan ini sangat berkaitan erat dengan pencapaian kesejahteraan
subjektif pada anak untuk menginjak masa remaja menuju dewasa.
Kata Kunci : Nilai-nilai Islami,
Pembentukan Karakter, Subjective Well
Being
LATAR BELAKANG
Sejak
usia dini, bahkan usia TK, anak-anak Indonesia sudah wajib diajarkan agama di
sekolah, namun kita lihat perilaku remaja kita yang gemar mencontek, kebiasaan bullying
di sekolah, tawuran, termasuk perilaku orang dewasa yang juga senang dengan
konflik dan kekerasan (tawuran), serta perilaku korupsi yang merajalela,
ternyata seluruh pengetahuan agama dan moral yang didapatkannya, tidak
berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia.
Membentuk
pribadi yang berakhlak baik merupakan hal yang sulit, namun membangun manusia
yang batinnya hidup mutlak diperlukan sebagai fondasi penting bagi terbentuknya
manusia-manusia yang berkarakter mulia (Ratna Megawangi, dkk, IHF, 2010).[1]
Model
yang dikenalkan Ratna Megawangi, Ph.D, disebut “Pendidikan Holistik Berbasis
Karakter” (Character-based Holistic
Education). Tujuan Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter adalah
“Membangun manusia holistik/utuh (whole
person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat
berubah, serta mempunyai kesadaran emosional dan spiritual bahwa dirinya adalah
bagian dari keseluruhan (the person
within a whole)”, yaitu melalui penanaman sembilan pilar karakter.[2]
Orangtua,
masyarakat bahkan para ilmuwan dan pendidik, cenderung menitikberatkan pada
anak sebagai subjek aktif yang masih polos dan mudah terpengaruh. Kita
seringkali lupa bahwa anak akan berkembang menjadi remaja dan dewasa, dan bekal
yang disiapkan orangtua dan pendidik berupa pembentukan karakter yang mulia
tidak hanya sebatas tugas anak sebagai pelaku dalam masyarakat, tetapi sebagai
manusia yang juga memiliki hak untuk bahagia dan sejahtera. Kesuksesan pada
anak kita di masa depan, bisa dicirikan oleh tercapai-tidaknya kesejahteraan
atau well-being-nya (Poulin, M. dan
Silver, R.C., 2007)[3].
Kesejahteraan diri ini lebih dikenal dengan kesejahteraan subjektif (subjective well being). Kesejahteraan
subjektif meliputi apa yang dinamakan global
well being, dinyatakan oleh Keyes dan Moe dalam Lopez dan Snyder (2003)
terdiri dari kesejahteraan psikologis, kesejahteraan bidang sosial dan
kesejahteraan emosional.
Di dalam Al-Qur’an, Allah
subhanahu wata’ala mengabadikan doa Nabi Ibrahim, bapak para nabi :
رَبَّنَا
وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah
untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada
mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan
Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha
Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah/2: 129)
Ayat
ini dalam konteks doa Ibrahim untuk anak cucu putranya, Ismail ‘alaihimas
salam. Lebih spesifik, ayat ini tentang penutup para nabi sekaligus nabi
termulia : Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Dalam doanya itu, Ibrahim
merinci misi kenabian Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Ia menyebut tiga
strategi : membacakan, mengajarkan dan mensucikan. Tak pelak, ketiganya adalah
tugas pendidik. Tidak salah bila dikatakan bahwa pendidikan adalah bagian
integral dan tak terpisahkan dari ajaran Islam. [4]
Ayat
Allah di atas menunjukkan bahwa menggali ilmu itu adalah kewajiban setiap
manusia dan menyebarkan ayat-ayat Allah juga menjadi kewajiban seluruh muslim.
Maka kita, termasuk di dalamnya orangtua dan pendidik, yang juga memberikan
pengasuhan pada anak, bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak kita secara
islami.
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka peneliti memfokuskan permasalahan pada penerapan
metode pendidikan anak islami dalam membentuk karakter anak dengan tujuan akhir
mempersiapkan kesejahteraan subjektif pada anak. Penulisan karya ilmiah ini
merupakan studi pendahuluan dalam melakukan penelitian selanjutnya dengan
menghubungkan ketiga variabel.
A. Tujuan
1.
Mengenalkan
alternatif metode pendidikan anak islami dalam membentuk karakter anak bangsa
yang sejahtera secara subjektif.
2.
Menjadi
pengantar dalam menemukan hubungan antara penerapan nilai-nilai islami,
pembentukan karakter dan subjective well
being pada pendidikan anak.
B. Manfaat
1.
Metode
penanaman nilai-nilai islami dan pembentukan karakter anak dapat diterapkan
dalam pendidikan anak di berbagai instansi pendidikan dan keluarga/masyarakat.
2.
Mengenalkan
pada masyarakat, orangtua dan pendidik mengenai pentingnya memperhatikan subjective well-being pada anak.
KAJIAN PUSTAKA
A. Lima Poin Pendidikan
Anak Dalam Islam
1.
Kesuksesan Sejati.
QS 3:185. Bolehlah mereka
memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya
cita-cita Akhirat.
2.
Memahami anak.
Ada
dua hal yang perlu diamati:
(1) Amati
sifat-sifat khasnya masing-masing.
(2)
Fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Pendidikan anak dalam Islam,
menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/
penggolongan usia:
1) Tahap
BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), 0 - 7 tahun.
2) Tahap
PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) 7 – 14 thn.
3) Tahap
KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sahabat) 14 thn dst.
3.
Memilih metode pendidikan.
Setidaknya, dalam buku dua orang
pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah
Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam
Islam.
1) Keteladanan
atau Qudwah,
2) Pembiasaan
atau Aadah,
3) Pemberian
Nasehat atau Mau’izhoh,
4) melaksanakan
Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh,
5) Metode
Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.
4.
Isi Pendidikan
Hal-hal apa saja yang perlu kita
berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT. Ketujuh Bidang Tarbiyah
Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq
(3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5)
Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7)
Pendidikan Kejenisan (sexual
education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.
5.
Gambaran pribadi
yang diharapkan
à target pendidikan Islam :
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain. Amin. Wallahua’lam.
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain. Amin. Wallahua’lam.
B. Strategi dan Implementasi Model Pendidikan
Holistik Berbasis Karakter
Dalam
model “Pendidikan Holistik Berbasis Karkater” (Character-based Holistic
Education), kurikulum yang digunakan adalah “Kurikulum Holistik Berbasis
Karakter” (Character-based Integrated Curriculum), yaitu kurikulum
terpadu yang “menyentuh” semua aspek kebutuhan anak, yang bertujuan untuk
mengembangkan seluruh dimensi manusia. Tujuan dari Model Pendidikan Holistik
Berbasis Karakter adalah “Membangun manusia holistik/utuh (whole person)
yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta
mempunyai kesadaran emosional dan spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari
keseluruhan (the person within a whole)”.
Nilai-Nilai
Karakter yang Ditanamkan Secara Eksplisit
Ada
banyak kualitas karakter yang harus dikembangkan, diharapkan melalui
internalisasi 9 pilar karakter, anak menjadi manusia yang cinta damai, tanggung
jawab, jujur, dan serangkaian akhlak mulia lainnya. Ada pun nilai-nilai 9 pilar
karakter terdiri dari:
1. Cinta Tuhan dan alam semesta beserta
isinya
2. Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan
Kemandirian
3. Kejujuran
4. Hormat dan Santun
5. Kasih Sayang, Kepedulian, dan
Kerjasama
6. Percaya Diri, Kreatif, Kerja
Keras, dan Pantang Menyerah
7. Keadilan dan Kepemimpinan
8. Baik dan Rendah Hati
9. Toleransi, Cinta Damai, dan
Persatuan
C.
Kesejahteraan Subjektif
Kesejahteraan subjektif merupakan
suatu kondisi sejahtera yang dimaknakan individu berdasarkan aspek kognisi dan
afeksi atau perasaannya sekaligus. Kondisi ini merupakan evaluasi individu atas
berbagai dimensi kesejahteraan diri yang terdiri dari kesejahteraan emosi (emotional well-being), kesejahteraan
psikologis (psychological well-being)
dan kesejahteraan bidang sosial (social
well-being).
a. Kesejahteraan
Psikologis
Komponen
individu yang mempunyai fungsi psikologis yang positif, yaitu: (1) Penerimaan
diri (self-acceptance), (2) Hubungan
positif dengan orang lain (positive
relations with others),
(3) Otonomi (autonomy),
(4) Tujuan hidup (purpose
in life), (5) Pertumbuhan pribadi (personal growth), (6) Penguasaan
terhadap lingkungan (environmental
mastery).
b. Kesejahteraan
Bidang Sosial
Kesejahteraan Bidang Sosial
mengacu pada evaluasi seseorang tentang (1) penerimaan sosial (social acceptance), (2) aktualisasi
sosial (social actualization), (3) kontribusi
sosial (social contribution), (4) hubungan
sosial (social coherence), dan (5) integrasi
sosial (social integration) di dalam
rentang kehidupannya.
Dapat dikatakan bahwa individu
yang memenuhi kualitas bahagia merupakan individu yang dapat berfungsi baik secara
psikologis maupun secara sosial (psychologically
and socially healthy people); memaknakan kebahagiaan dan kepuasn hidupnya
secara positif; serta memiliki kondisi afek yang seimbang.
c.
Kesejahteraan Emosional
Kesejahteraan Emosional (Diener,
Suh, Oishi, 1997 dalam Seligman, 2002) memiliki empat faset, yaitu : (1) Afek
positif, afek negatif, dan keseimbangan afek, subdimensi ini terdiri dari: Afek
positif dan Afek negatif, Keseimbangan
afek, (2) Kepuasan hidup, (3) Kebahagiaan, (3) Domain kepuasan.
Kesejahteraan emosional mengacu kepada antusiasme, kegembiraan dan kebahagiaan
dalam hidup. Hal ini ditandai dengan ketidak munculan gejala-gejala yang
mengacu pada penghayatan bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak diinginkan dan
tidak menyenangkan.
METODOLOGI
Karya ilmiah ini merupakan studi
pendahuluan yang menjadi langkah awal dalam rencana penelitian yang akan
dilakukan penulis. Metode dalam karya ilmiah ini, adalah telaah
teoretik-deskriptif dengan cara mengaitkan 5 poin pendidikan dalam Islam dengan
ke-9 pilar karakter dan 3 aspek subjective
well being.
Telaah yang digunakan juga
dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian penulis mengenai subjective well being dan pendidikan pembentukan karakter.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
1. Nilai-nilai
Pendidikan Islami dan Pembentukan Karakter
Perumusan cita-cita bagi pribadi
dan anak-anak kita mayoritas diutamakan pada cita-cita duniawi saja, seperti ingin
mencapai prestasi sekolah, ingin menjadi professor, ingin terkenal, ingin
menjadi orang kaya-raya, atau bahkan ingin menjadi pejabat. Justru yang
seringkali dilupakan oleh kaum muslim adalah bahwa kita dilahirkan di dunia ini
untuk menjadi khalifah, yang memiliki tugas menyebarkan nilai-nilai islam dan
kebaikan di muka bumi. Kita lihat lebih lanjut bahwa nilai pendidikan yang
pertama ini, yaitu kesuksesan sejati, menyatakan bahwa semua dilakukan karena
mengejar kebahagiaan dunia-akhirat, dan hal ini mendukung pilar-pilar dalam
pembentukan karakter anak, menanamkan cinta Allah dan alam, individu yang
menjalankan ajaran agama dengan baik akan bertanggung jawab, jujur, hormat,
santun, peduli, rendah hati, dan cinta damai.
Nilai kedua yang diterapkan dalam
pendidikan islami ini adalah, memahami anak. Ketika orangtua atau pendidik
memahami bahwa anak adalah individu yang unik dengan kekhasan masing-masing,
maka toleransi sudah terbangun. Terlebih lagi jika kita memahami ciri kodrati
anak, seperti menurut Sahabat Ali bin Abithalib, bahwa pendidikan anak dalam
islam terbagi menjadi tiga tahapan, maka pendidikan karakter bisa menyesuaikan
tahapan tersebut, misalnya di usia 0-7 tahun ciri anak adalah bermain, maka
pembentukan karakter ini, harus melebur dalam dunia permainan sehingga lebih
mudah diserap anak. Termasuk di usia 7-14 tahun, dengan ciri penanaman disiplin
dan mengajari adab, justru semua karakter yang diharapkan dapat ditanamkan
secara mendalam dalam tahun-tahun ini. Di usia 14 tahun ke atas, sebagai mitra,
orangtua atau pendidik mulai memberi kepercayaan pada anak untuk dapat
mengembangkan karakternya dalam kehidupan sehari-hari.
Metode pendidikan dalam islam
yang dikenalkan disini, adalah keteladanan, pembiasaan, pemberian nasehat,
mekanisme kontrol dan sistem sangsi. Keteladanan menyiratkan bahwa para
orangtua dan masyarakat dewasa akan senantiasa menjadi contoh bagi anak-anak,
maka segala sikap dan perilaku seyogyanya sudah memunculkan karakter-karakter
positif yang diharapkan ada pada anak-anak kita untuk mereka teladani.
Pembiasaan yang dimaksud disini adalah karakter-karakter positif yang sudah
dikenalkan pada anak, harus dimunculkan terus menerus agar tercipta suatu habit dan sedikit-demi sedikit akan
melekat pada kepribadiannya. Sementara pemberian nasehat dan mekanisme kontrol,
dimaksudkan pada perlu adanya kontrol dari orangtua dan pendidik atau
masyarakat dewasa di sekitar, dengan cara pemberian nasehat dan pengajaran ilmu
yang mampu diserap dan diaplikasikan oleh anak dalam kehidupannya, dan
dilengkapi dengan sistem sangsi sesuai ciri dan kemampuan anak. Hasil telaah,
dapat diprediksikan bahwa penanaman karakter positif pada anak dapat lebih
efektif jika menggunakan kelima metode di atas.
Isi pendidikan dalam membentuk
anak yang berkarakter, islam mengingatkan untuk tidak melupakan tujuh bidang
tarbiyah islamiyah, yaitu (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq
(3) Pendidikan Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5)
Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7)
Pendidikan Kejenisan (sexual
education). Gambaran pribadi yang diharapkan juga dapat dipetakan dalam
sistem pendidikan islami ini, yaitu anak yang dibekali dengan nilai-nilai
islami dalam pembentukan karakternya, dapat menjadi individu yang “Selamat
aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Berpenghasilan, Jernih
pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur
urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain”.
2. Nilai-nilai
Pendidikan Islami dan Kesejahteraan Subjektif
Islam mengajarkan penanaman
nilai-nilai islam dalam pendidikan. Nilai yang pertama adalah kesuksesan
sejati, yaitu kesuksesan yang berorientasi pada akherat, anak akan merasa
sukses ketika ia beribadah tertib dan kusyu, berbuat baik secara ikhlas
terhadap sesama manusia, dan akan tumbuh suatu perasaan nyaman dan bahagia
dalam dirinya.
Islam mengingatkan bahwa memahami
anak adalah penting ketika mendidik anak. Anak pada usia 0-7 tahun dengan ciri
bermain akan merasa bahagia ketika mereka selalu memiliki kesempatan untuk
bermain, pendidikan yang diberikan tidak akan menghambat anak untuk mencapai
kesejahteraan emosional yang sangat rentan pada anak di usia ini. Demikian pula
penanaman disiplin pada usia 7-14 tahun, pada anak akan terbentuk suatu
pemahaman yang sempurna tentang fungsi disiplin dalam kehidupan, yaitu untuk
hidup lebih teratur dan bertujuan, sehingga tidak ada yang sia-sia dalam hidup
ini, dan ketika hal ini tercapai maka kesejahteraan akan terbentuk. Anak usia
14 tahun ke atas, lebih mengharapkan kebebasan dan kepercayaan dari orangtua
dan pendidik sebagai individu yang mandiri dan bertanggung jawab. Anak akan
merasa bahwa orangtua sudah memandangnya sebagai manusia dewasa yang memiliki
hak dan kewajiban, ketika itulah kebahagiaan yang sesungguhnya tercapai.
Metode pendidikan yang dikenalkan
dalam islam, yaitu keteladanan, pembiasaan, pemberian nasehat, mekanisme
kontrol dan sistem sangsi. Metode ini menyiratkan bahwa pendidikan ini tidak
hanya berlaku untuk anak, tetapi juga mengharuskan orang dewasa di sekitarnya
memberikan contoh atau teladan yang baik, dan hal ini menumbuhkan kenyamanan
bagi anak. Pembiasaan dan pemberian nasehat juga menanamkan pada anak bahwa
pendidikan yang diberikan mudah untuk dipahami sehingga akan tumbuh dengan
sendirinya suatu kepercayaan anak terhadap kemanfaatan pendidikan yang
diterimanya yang menuntunnya untuk mencapai kebahagiaan. Mekanisme kontrol dan
sanksi yang diterapkan dalam metode islami pendidikan anak, bukan membuat anak
terbelenggu, melainkan mengajarkan anak untuk mendiri dan bertanggungjawab
karena mengetahui konsekuensi dari segala perilakunya, hal ini yang menjadi
salah satu bekal penting dalam menjalani kehidupannya kelak. Keseluruhan
pendidikan dalam islam ini menuntun anak untuk menjadi pribadi yang sejahtera
baik secara psikologis, sosial dan emosional.
3. Pembentukan
Karakter dan Kesejahteraan Subjektif
Dalam pembentukan karakter,
penanaman karakter yang berkaitan dengan kesejahteraan psikologis adalah
bertanggungjawab, disiplin, mandiri, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan
pantang menyerah. Sementara karakter-karakter yang berkaitan dengan
kesejahteraan sosial adalah jujur, hormat dan santun, kepedulian dan kerjasama,
keadilan dan kepemimpinan, toleransi, cinta damai dan persatuan.
Karakter-karakter yang berkaitan dengan kesejahteraan emosional adalah cinta
Tuhan dan alam, kasih sayang, baik dan rendah hati.
Kesimpulan mengenai
Hubungan antara Nilai-nilai Pendidikan Islami,
Pembentukan Karakter dan Kesejahteraan Subjektif
Melihat
keterkaitan dari ketiga variabel penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa
ketika orangtua atau pendidik berpedoman pada nilai-nilai islami dalam
memberikan pendidikan kepada anak, yang mencakup lima poin pendidikan yaitu
kesuksesan sejati, memahami anak, pemilihan metode pendidikan, isi pendidikan
dan gambaran pribadi harapan, maka akan terbentuk pula karakter anak sesuai
harapan, yang sinkron dengan sembilan pilar karakter positif pada anak,
mencakup cinta Tuhan dan alam; tanggungjawab, disiplin, mandiri; jujur; hormat
dan santun; kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; percaya diri, kreatif,
kerja keras dan pantang menyerah; keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah
hati; serta toleransi, cinta damai dan persatuan. Keseluruhan pembentukan
karakter melalui penanaman nilai-nilai islami, secara telaah teoretik dapat
bermuara pada kesejahteraan dan kebahagiaan, yaitu mencakup sejahtera secara
psikologis, sosial dan emosional.
DAFTAR PUSTAKA
Danudirja (2009). Kebahagiaan, Harga Diri dan Kesejahteraan Subjektif.
http://wangmuba.com/2009/05/17.
Greenstein, Theodore
N., (2001). Method of Family Research.
Sage Publication, Inc.
Hartup, W.W. (2001).
Social Relationship and Their
Developmental Significance. American
Psychologist. February 1992. Vol. 44, No. 2, 120 – 126.
Hengudomsub, Pompat
(2005). Well Being in Thai Older Adults.
Melalui www.lib.umi.com/dissertations/cart?ad=3175562.> [diunduh 10/11/2009].
Hewstone, Miles &
Stroebe, Wolfgang, (2001). Introduction
to Social Psychology, a European Perspective. Oxford : Blackwell Publisher.
Larsen, Randy J.
& Eid, Michael (2008). The Science of
Subjective Well Being. New York: Guilford Publications.
Murni Ayuningsih
(2007). Kesejahteraan Subjektif pada
Dewasa Awal dan Dewasa Akhir. Tesis, Program Magister Psikologi,
Universitas Indonesia Jakarta.
Papalia, Diane E.,
Sally W. Old, & Ruth D. Feldman. (2008). Ninth Edition. Human Development. McGraw Hill Companies.
Poulin, M., &
Silver R.C. (2007). World Benevolence
Beliefs and Well-Being Across the Life Span. Psychology and Aging, Vol.23,
No.1, University of Michigan and
University of California.
Ratna Megawangi
(2010), Jurnal “Pengembangan Program Pendidikan Karakter di Sekolah :
Pengalaman Sekolah Karakter”.
Ratna Wydiyanti
(2007). Subjective Well Being Individu
Dewasa Madya “Studi Kasus mengenai Subjective Well Being Individu Dewasa Madya”.
Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung.
Santrock, John W.
(2006), Tenth Edition. Life Span
Development. 552-631. McGraw-Hill Companies.
SAN, “Lima Poin Pendidikan Anak dalam Islam”, Smart Parenting, www.eramuslim.com, diunduh 28 Januari 2011.
[1]
Ratna
Megawangi, Ph.D, banyak berkecimpung dalam kegiatan pendidikan karakter melalui
penerapan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter, yang dikembangkan oleh
Indonesia Heritage Foundation (IHF) sejak tahun 2000, dan telah menerapkannya
di Sekolah Karakter dan sekolah PAUD Semai Benih Bangsa (SBB) di lebih dari
1600 lokasi SBB.
[3] Dalam Tesis Dinie
Ratri Desiningrum, mengenai Subjective
Well Being.
[4] Dikutip dari Implementasi
Nilai-nilai Islam dalam Dunia Pendidikan oleh Ilham
Jaya Abdurrauf