Rabu, 29 Februari 2012

Artikel dipublikasikan dalam Proceeding Psikologi UNISSULA 2011


PEMBENTUKAN KARAKTER DAN SUBJECTIVE WELL BEING DITINJAU DARI PENANAMAN NILAI-NILAI ISLAMI DALAM PENDIDIKAN ANAK

Dinie Ratri Desiningrum
Fakultas Psikologi UNDIP

ABSTRAK
Perilaku menyimpang yang ada, seperti pada remaja yang gemar mencontek, kebiasaan bullying di sekolah, terlibat penggunaan narkoba dan seksual pranikah, tawuran, termasuk perilaku orang dewasa yang juga senang dengan konflik dan kekerasan, serta perilaku korupsi yang merajalela, menunjukkan bahwa pengetahuan agama dan moral yang didapatkan di bangku sekolah dan di rumah, tidak berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia. Untuk menciptakan manusia yang cinta damai, jujur, bertanggung jawab menjaga lingkungan dan kualitas akhlak lainnya, adalah dengan menciptakan manusia-manusia berkarakter, yang batinnya hidup, yaitu mampu memilih mana yang baik dan benar, mampu mengontrol dorongan-dorongan nafsu ketamakan, berpikir kritis, kreatif, beretos kerja tinggi, selalu berinisiatif untuk melakukan kebaikan, dan berusaha untuk semakin lebih baik setiap harinya. Bekal yang disiapkan orangtua dan pendidik berupa pembentukan karakter yang mulia tidak hanya sebatas tugas anak sebagai pelaku dalam masyarakat, tetapi sebagai manusia yang juga memiliki hak untuk bahagia dan sejahtera, yang lebih dikenal dengan kesejahteraan subjektif. Sementara beberapa ayat Allah dan Hadist menyatakan bahwa pendidikan adalah bagian integral dan tak terpisahkan dari ajaran Islam. Karya ilmiah ini bertujuan untuk menerapkan metode pendidikan anak secara islami dalam membentuk karakter anak dengan tujuan akhir mempersiapkan kesejahteraan subjektif pada anak.
Metode yang digunakan adalah analisis telaah teoritik-deskriptif, dengan mengaitkan lima poin pendidikan islami dengan sembilan pilar karakter, dan bermuara pada pencapaian tiga aspek kesejahteraan subjektif pada anak. Adapun karya ilmiah ini masih merupakan studi pendahuluan sebagai langkah awal dalam penelitian lanjutan yang akan dilakukan oleh penulis mengenai ketiga variabel.
Hasil yang diperoleh dari karya ilmiah ini adalah adanya keterkaitan antara poin-poin pendidikan dalam islam, dengan sembilan pilar pada pembentukan karakter dan keseluruhannya dapat membentuk kesejahteraan subjektif pada anak. Ditemukan lebih lanjut bahwa poin kesuksesan sejati berkaitan erat dengan pilar cinta Tuhan dan alam, lalu mendasari pilar-pilar karakter lainnya; memahami anak sangat berkaitan dengan usia yang tepat dalam penanaman ke-sembilan pilar karakter pada anak; metode pendidikan islam memberikan solusi dalam pembentukan karakter secara menyeluruh dan komprehensif; sementara isi pendidikan islam mengingatkan kita bahwa dalam membentuk karakter anak tidak boleh lepas dari tujuan kesuksesan sejati, yaitu meliputi tujuh bidang tarbiyah islam. Muara akhir dari pendidikan yang ditawarkan islam dalam hal pendidikan karakter adalah terbentuknya karakter sesuai harapan pendidikan islam, dan ini sangat berkaitan erat dengan pencapaian kesejahteraan subjektif pada anak untuk menginjak masa remaja menuju dewasa.

Kata Kunci : Nilai-nilai Islami, Pembentukan Karakter, Subjective Well Being



LATAR BELAKANG
Sejak usia dini, bahkan usia TK, anak-anak Indonesia sudah wajib diajarkan agama di sekolah, namun kita lihat perilaku remaja kita yang gemar mencontek, kebiasaan bullying di sekolah, tawuran, termasuk perilaku orang dewasa yang juga senang dengan konflik dan kekerasan (tawuran), serta perilaku korupsi yang merajalela, ternyata seluruh pengetahuan agama dan moral yang didapatkannya, tidak berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia.

Membentuk pribadi yang berakhlak baik merupakan hal yang sulit, namun membangun manusia yang batinnya hidup mutlak diperlukan sebagai fondasi penting bagi terbentuknya manusia-manusia yang berkarakter mulia (Ratna Megawangi, dkk, IHF, 2010).[1]

Model yang dikenalkan Ratna Megawangi, Ph.D, disebut “Pendidikan Holistik Berbasis Karakter” (Character-based Holistic Education). Tujuan Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter adalah “Membangun manusia holistik/utuh (whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran emosional dan spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole)”, yaitu melalui penanaman sembilan pilar karakter.[2]

Orangtua, masyarakat bahkan para ilmuwan dan pendidik, cenderung menitikberatkan pada anak sebagai subjek aktif yang masih polos dan mudah terpengaruh. Kita seringkali lupa bahwa anak akan berkembang menjadi remaja dan dewasa, dan bekal yang disiapkan orangtua dan pendidik berupa pembentukan karakter yang mulia tidak hanya sebatas tugas anak sebagai pelaku dalam masyarakat, tetapi sebagai manusia yang juga memiliki hak untuk bahagia dan sejahtera. Kesuksesan pada anak kita di masa depan, bisa dicirikan oleh tercapai-tidaknya kesejahteraan atau well-being-nya (Poulin, M. dan Silver, R.C., 2007)[3]. Kesejahteraan diri ini lebih dikenal dengan kesejahteraan subjektif (subjective well being). Kesejahteraan subjektif meliputi apa yang dinamakan global well being, dinyatakan oleh Keyes dan Moe dalam Lopez dan Snyder (2003) terdiri dari kesejahteraan psikologis, kesejahteraan bidang sosial dan kesejahteraan emosional.

Di dalam Al-Qur’an, Allah subhanahu wata’ala mengabadikan doa Nabi Ibrahim, bapak para nabi :
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Baqarah/2: 129) 

Ayat ini dalam konteks doa Ibrahim untuk anak cucu putranya, Ismail ‘alaihimas salam. Lebih spesifik, ayat ini tentang penutup para nabi sekaligus nabi termulia : Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam. Dalam doanya itu, Ibrahim merinci misi kenabian Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Ia menyebut tiga strategi : membacakan, mengajarkan dan mensucikan. Tak pelak, ketiganya adalah tugas pendidik. Tidak salah bila dikatakan bahwa pendidikan adalah bagian integral dan tak terpisahkan dari ajaran Islam. [4]

Ayat Allah di atas menunjukkan bahwa menggali ilmu itu adalah kewajiban setiap manusia dan menyebarkan ayat-ayat Allah juga menjadi kewajiban seluruh muslim. Maka kita, termasuk di dalamnya orangtua dan pendidik, yang juga memberikan pengasuhan pada anak, bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak kita secara islami.        

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti memfokuskan permasalahan pada penerapan metode pendidikan anak islami dalam membentuk karakter anak dengan tujuan akhir mempersiapkan kesejahteraan subjektif pada anak. Penulisan karya ilmiah ini merupakan studi pendahuluan dalam melakukan penelitian selanjutnya dengan menghubungkan ketiga variabel.
A.     Tujuan
1.      Mengenalkan alternatif metode pendidikan anak islami dalam membentuk karakter anak bangsa yang sejahtera secara subjektif.
2.      Menjadi pengantar dalam menemukan hubungan antara penerapan nilai-nilai islami, pembentukan karakter dan subjective well being pada pendidikan anak.

B.     Manfaat
1.      Metode penanaman nilai-nilai islami dan pembentukan karakter anak dapat diterapkan dalam pendidikan anak di berbagai instansi pendidikan dan keluarga/masyarakat.
2.      Mengenalkan pada masyarakat, orangtua dan pendidik mengenai pentingnya memperhatikan subjective well-being pada anak.

KAJIAN PUSTAKA

A.     Lima Poin Pendidikan Anak Dalam Islam

1.      Kesuksesan Sejati.
 QS 3:185. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

2.      Memahami anak.
Ada dua hal yang perlu diamati:
(1) Amati sifat-sifat khasnya masing-masing.
(2) Fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
1)      Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), 0 - 7 tahun.
2)      Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) 7 – 14 thn.
3)      Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sahabat) 14 thn dst.

3.      Memilih metode pendidikan.
Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.
1)      Keteladanan atau Qudwah,
2)      Pembiasaan atau Aadah,
3)      Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh,
4)      melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh,
5)      Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

4.      Isi Pendidikan
Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

5.      Gambaran pribadi yang diharapkan
à target pendidikan Islam :
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain. Amin. Wallahua’lam.

B.     Strategi dan Implementasi Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter
Dalam model “Pendidikan Holistik Berbasis Karkater” (Character-based Holistic Education), kurikulum yang digunakan adalah “Kurikulum Holistik Berbasis Karakter” (Character-based Integrated Curriculum), yaitu kurikulum terpadu yang “menyentuh” semua aspek kebutuhan anak, yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh dimensi manusia. Tujuan dari Model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter adalah “Membangun manusia holistik/utuh (whole person) yang cakap dalam menghadapi dunia yang penuh tantangan dan cepat berubah, serta mempunyai kesadaran emosional dan spiritual bahwa dirinya adalah bagian dari keseluruhan (the person within a whole)”.

Nilai-Nilai Karakter yang Ditanamkan Secara Eksplisit
Ada banyak kualitas karakter yang harus dikembangkan, diharapkan melalui internalisasi 9 pilar karakter, anak menjadi manusia yang cinta damai, tanggung jawab, jujur, dan serangkaian akhlak mulia lainnya. Ada pun nilai-nilai 9 pilar karakter terdiri dari:
1.    Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya
2.    Tanggung jawab, Kedisiplinan, dan Kemandirian
3.    Kejujuran
4.    Hormat dan Santun
5.    Kasih Sayang, Kepedulian, dan Kerjasama
6.    Percaya Diri, Kreatif, Kerja Keras, dan Pantang Menyerah
7.    Keadilan dan Kepemimpinan
8.    Baik dan Rendah Hati
9.    Toleransi, Cinta Damai, dan Persatuan

C.     Kesejahteraan Subjektif
Kesejahteraan subjektif merupakan suatu kondisi sejahtera yang dimaknakan individu berdasarkan aspek kognisi dan afeksi atau perasaannya sekaligus. Kondisi ini merupakan evaluasi individu atas berbagai dimensi kesejahteraan diri yang terdiri dari kesejahteraan emosi (emotional well-being), kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan kesejahteraan bidang sosial (social well-being).
a.      Kesejahteraan Psikologis
Komponen individu yang mempunyai fungsi psikologis yang positif, yaitu: (1) Penerimaan diri (self-acceptance), (2) Hubungan positif dengan orang lain (positive relations with others), (3) Otonomi (autonomy), (4) Tujuan hidup (purpose in life), (5) Pertumbuhan pribadi (personal growth), (6) Penguasaan terhadap lingkungan (environmental mastery).
b.      Kesejahteraan Bidang Sosial
Kesejahteraan Bidang Sosial mengacu pada evaluasi seseorang tentang (1) penerimaan sosial (social acceptance), (2) aktualisasi sosial (social actualization), (3) kontribusi sosial (social contribution), (4) hubungan sosial (social coherence), dan (5) integrasi sosial (social integration) di dalam rentang kehidupannya.

Dapat dikatakan bahwa individu yang memenuhi kualitas bahagia merupakan individu yang dapat berfungsi baik secara psikologis maupun secara sosial (psychologically and socially healthy people); memaknakan kebahagiaan dan kepuasn hidupnya secara positif; serta memiliki kondisi afek yang seimbang.

c.       Kesejahteraan Emosional
Kesejahteraan Emosional (Diener, Suh, Oishi, 1997 dalam Seligman, 2002) memiliki empat faset, yaitu : (1) Afek positif, afek negatif, dan keseimbangan afek, subdimensi ini terdiri dari: Afek positif dan Afek negatif, Keseimbangan afek, (2) Kepuasan hidup, (3) Kebahagiaan, (3) Domain kepuasan. Kesejahteraan emosional mengacu kepada antusiasme, kegembiraan dan kebahagiaan dalam hidup. Hal ini ditandai dengan ketidak munculan gejala-gejala yang mengacu pada penghayatan bahwa hidup adalah sesuatu yang tidak diinginkan dan tidak menyenangkan.

METODOLOGI
Karya ilmiah ini merupakan studi pendahuluan yang menjadi langkah awal dalam rencana penelitian yang akan dilakukan penulis. Metode dalam karya ilmiah ini, adalah telaah teoretik-deskriptif dengan cara mengaitkan 5 poin pendidikan dalam Islam dengan ke-9 pilar karakter dan 3 aspek subjective well being.

Telaah yang digunakan juga dikaitkan dengan hasil-hasil penelitian penulis mengenai subjective well being dan pendidikan pembentukan karakter.



HASIL DAN PEMBAHASAN
1.    Nilai-nilai Pendidikan Islami dan Pembentukan Karakter
Perumusan cita-cita bagi pribadi dan anak-anak kita mayoritas diutamakan pada cita-cita duniawi saja, seperti ingin mencapai prestasi sekolah, ingin menjadi professor, ingin terkenal, ingin menjadi orang kaya-raya, atau bahkan ingin menjadi pejabat. Justru yang seringkali dilupakan oleh kaum muslim adalah bahwa kita dilahirkan di dunia ini untuk menjadi khalifah, yang memiliki tugas menyebarkan nilai-nilai islam dan kebaikan di muka bumi. Kita lihat lebih lanjut bahwa nilai pendidikan yang pertama ini, yaitu kesuksesan sejati, menyatakan bahwa semua dilakukan karena mengejar kebahagiaan dunia-akhirat, dan hal ini mendukung pilar-pilar dalam pembentukan karakter anak, menanamkan cinta Allah dan alam, individu yang menjalankan ajaran agama dengan baik akan bertanggung jawab, jujur, hormat, santun, peduli, rendah hati, dan cinta damai.

Nilai kedua yang diterapkan dalam pendidikan islami ini adalah, memahami anak. Ketika orangtua atau pendidik memahami bahwa anak adalah individu yang unik dengan kekhasan masing-masing, maka toleransi sudah terbangun. Terlebih lagi jika kita memahami ciri kodrati anak, seperti menurut Sahabat Ali bin Abithalib, bahwa pendidikan anak dalam islam terbagi menjadi tiga tahapan, maka pendidikan karakter bisa menyesuaikan tahapan tersebut, misalnya di usia 0-7 tahun ciri anak adalah bermain, maka pembentukan karakter ini, harus melebur dalam dunia permainan sehingga lebih mudah diserap anak. Termasuk di usia 7-14 tahun, dengan ciri penanaman disiplin dan mengajari adab, justru semua karakter yang diharapkan dapat ditanamkan secara mendalam dalam tahun-tahun ini. Di usia 14 tahun ke atas, sebagai mitra, orangtua atau pendidik mulai memberi kepercayaan pada anak untuk dapat mengembangkan karakternya dalam kehidupan sehari-hari.

Metode pendidikan dalam islam yang dikenalkan disini, adalah keteladanan, pembiasaan, pemberian nasehat, mekanisme kontrol dan sistem sangsi. Keteladanan menyiratkan bahwa para orangtua dan masyarakat dewasa akan senantiasa menjadi contoh bagi anak-anak, maka segala sikap dan perilaku seyogyanya sudah memunculkan karakter-karakter positif yang diharapkan ada pada anak-anak kita untuk mereka teladani. Pembiasaan yang dimaksud disini adalah karakter-karakter positif yang sudah dikenalkan pada anak, harus dimunculkan terus menerus agar tercipta suatu habit dan sedikit-demi sedikit akan melekat pada kepribadiannya. Sementara pemberian nasehat dan mekanisme kontrol, dimaksudkan pada perlu adanya kontrol dari orangtua dan pendidik atau masyarakat dewasa di sekitar, dengan cara pemberian nasehat dan pengajaran ilmu yang mampu diserap dan diaplikasikan oleh anak dalam kehidupannya, dan dilengkapi dengan sistem sangsi sesuai ciri dan kemampuan anak. Hasil telaah, dapat diprediksikan bahwa penanaman karakter positif pada anak dapat lebih efektif jika menggunakan kelima metode di atas.

Isi pendidikan dalam membentuk anak yang berkarakter, islam mengingatkan untuk tidak melupakan tujuh bidang tarbiyah islamiyah, yaitu (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Gambaran pribadi yang diharapkan juga dapat dipetakan dalam sistem pendidikan islami ini, yaitu anak yang dibekali dengan nilai-nilai islami dalam pembentukan karakternya, dapat menjadi individu yang “Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Berpenghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain”.

2.    Nilai-nilai Pendidikan Islami dan Kesejahteraan Subjektif
Islam mengajarkan penanaman nilai-nilai islam dalam pendidikan. Nilai yang pertama adalah kesuksesan sejati, yaitu kesuksesan yang berorientasi pada akherat, anak akan merasa sukses ketika ia beribadah tertib dan kusyu, berbuat baik secara ikhlas terhadap sesama manusia, dan akan tumbuh suatu perasaan nyaman dan bahagia dalam dirinya.

Islam mengingatkan bahwa memahami anak adalah penting ketika mendidik anak. Anak pada usia 0-7 tahun dengan ciri bermain akan merasa bahagia ketika mereka selalu memiliki kesempatan untuk bermain, pendidikan yang diberikan tidak akan menghambat anak untuk mencapai kesejahteraan emosional yang sangat rentan pada anak di usia ini. Demikian pula penanaman disiplin pada usia 7-14 tahun, pada anak akan terbentuk suatu pemahaman yang sempurna tentang fungsi disiplin dalam kehidupan, yaitu untuk hidup lebih teratur dan bertujuan, sehingga tidak ada yang sia-sia dalam hidup ini, dan ketika hal ini tercapai maka kesejahteraan akan terbentuk. Anak usia 14 tahun ke atas, lebih mengharapkan kebebasan dan kepercayaan dari orangtua dan pendidik sebagai individu yang mandiri dan bertanggung jawab. Anak akan merasa bahwa orangtua sudah memandangnya sebagai manusia dewasa yang memiliki hak dan kewajiban, ketika itulah kebahagiaan yang sesungguhnya tercapai.

Metode pendidikan yang dikenalkan dalam islam, yaitu keteladanan, pembiasaan, pemberian nasehat, mekanisme kontrol dan sistem sangsi. Metode ini menyiratkan bahwa pendidikan ini tidak hanya berlaku untuk anak, tetapi juga mengharuskan orang dewasa di sekitarnya memberikan contoh atau teladan yang baik, dan hal ini menumbuhkan kenyamanan bagi anak. Pembiasaan dan pemberian nasehat juga menanamkan pada anak bahwa pendidikan yang diberikan mudah untuk dipahami sehingga akan tumbuh dengan sendirinya suatu kepercayaan anak terhadap kemanfaatan pendidikan yang diterimanya yang menuntunnya untuk mencapai kebahagiaan. Mekanisme kontrol dan sanksi yang diterapkan dalam metode islami pendidikan anak, bukan membuat anak terbelenggu, melainkan mengajarkan anak untuk mendiri dan bertanggungjawab karena mengetahui konsekuensi dari segala perilakunya, hal ini yang menjadi salah satu bekal penting dalam menjalani kehidupannya kelak. Keseluruhan pendidikan dalam islam ini menuntun anak untuk menjadi pribadi yang sejahtera baik secara psikologis, sosial dan emosional.

3.    Pembentukan Karakter dan Kesejahteraan Subjektif
Dalam pembentukan karakter, penanaman karakter yang berkaitan dengan kesejahteraan psikologis adalah bertanggungjawab, disiplin, mandiri, percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah. Sementara karakter-karakter yang berkaitan dengan kesejahteraan sosial adalah jujur, hormat dan santun, kepedulian dan kerjasama, keadilan dan kepemimpinan, toleransi, cinta damai dan persatuan. Karakter-karakter yang berkaitan dengan kesejahteraan emosional adalah cinta Tuhan dan alam, kasih sayang, baik dan rendah hati.


Kesimpulan mengenai Hubungan antara Nilai-nilai Pendidikan Islami,  Pembentukan Karakter dan Kesejahteraan Subjektif
Melihat keterkaitan dari ketiga variabel penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa ketika orangtua atau pendidik berpedoman pada nilai-nilai islami dalam memberikan pendidikan kepada anak, yang mencakup lima poin pendidikan yaitu kesuksesan sejati, memahami anak, pemilihan metode pendidikan, isi pendidikan dan gambaran pribadi harapan, maka akan terbentuk pula karakter anak sesuai harapan, yang sinkron dengan sembilan pilar karakter positif pada anak, mencakup cinta Tuhan dan alam; tanggungjawab, disiplin, mandiri; jujur; hormat dan santun; kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah; keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati; serta toleransi, cinta damai dan persatuan. Keseluruhan pembentukan karakter melalui penanaman nilai-nilai islami, secara telaah teoretik dapat bermuara pada kesejahteraan dan kebahagiaan, yaitu mencakup sejahtera secara psikologis, sosial dan emosional.

DAFTAR PUSTAKA
Danudirja (2009). Kebahagiaan, Harga Diri dan Kesejahteraan Subjektif. http://wangmuba.com/2009/05/17.
Greenstein, Theodore N., (2001). Method of Family Research. Sage Publication, Inc.
Hartup, W.W. (2001). Social Relationship and Their Developmental Significance. American Psychologist. February 1992. Vol. 44, No. 2, 120 – 126.
Hengudomsub, Pompat (2005). Well Being in Thai Older Adults. Melalui www.lib.umi.com/dissertations/cart?ad=3175562.> [diunduh 10/11/2009].
Hewstone, Miles & Stroebe, Wolfgang, (2001). Introduction to Social Psychology, a European Perspective. Oxford : Blackwell Publisher.
Larsen, Randy J. & Eid, Michael (2008). The Science of Subjective Well Being. New York: Guilford Publications.
Murni Ayuningsih (2007). Kesejahteraan Subjektif pada Dewasa Awal dan Dewasa Akhir. Tesis, Program Magister Psikologi, Universitas Indonesia Jakarta.
Papalia, Diane E., Sally W. Old, & Ruth D. Feldman. (2008). Ninth Edition. Human Development. McGraw Hill Companies.
Poulin, M., & Silver R.C. (2007). World Benevolence Beliefs and Well-Being Across the Life Span. Psychology and Aging, Vol.23, No.1, University of  Michigan and University of California.
Ratna Megawangi (2010), Jurnal “Pengembangan Program Pendidikan Karakter di Sekolah : Pengalaman Sekolah Karakter”.
Ratna Wydiyanti (2007). Subjective Well Being Individu Dewasa Madya “Studi Kasus mengenai Subjective Well Being Individu Dewasa Madya”. Skripsi, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung.
Santrock, John W. (2006), Tenth Edition. Life Span Development. 552-631. McGraw-Hill Companies.
SAN,  “Lima Poin Pendidikan Anak dalam Islam”, Smart Parentingwww.eramuslim.com, diunduh 28 Januari 2011.


[1] Ratna Megawangi, Ph.D, banyak berkecimpung dalam kegiatan pendidikan karakter melalui penerapan model Pendidikan Holistik Berbasis Karakter, yang dikembangkan oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF) sejak tahun 2000, dan telah menerapkannya di Sekolah Karakter dan sekolah PAUD Semai Benih Bangsa (SBB) di lebih dari 1600 lokasi SBB.
[2] Informasi IHF : www.ihf-sbb.org atau info@ihf.or.id
[3] Dalam Tesis Dinie Ratri Desiningrum, mengenai Subjective Well Being.
[4] Dikutip dari Implementasi Nilai-nilai Islam dalam Dunia Pendidikan oleh Ilham Jaya Abdurrauf